Museum Keraton Sumenep

slide 1
Image Slide 2
Image Slide 1
Image Slide 3
PENDOPO
2
3
previous arrowprevious arrow
next arrownext arrow
Shadow
MARI
BAR

Profil

Sebagai salah satu peninggalan sejarah, Museum Keraton Sumenep mempunya cerita dan sejarahnya tersendiri. Museum Keraton Sumenep sudah berdiri kurang lebih selama 300 tahun. Sejarah yang panjang menjadikan Museum Keraton Sumenep menjadi salah satu tagline wisata bagi kota Sumenep. Sumenep merupakan satu-satunya kota di pulau madura yang mempunya keraton, yang menjadikan kota Sumenep menjadi sangat menarik untuk dikunjungi, terutama wisata Museum Keraton Sumenep.

Sejarah Keraton Sumenep

     Keraton Sumenep dibangun di atas tanah pribadi milik Panembahan Somala penguasa Sumenep XXXI. Dibangun Pada tahun 1781 dengan arsitek pembangunan Karaton oleh Lauw Piango salah seorang warga keturunan Tionghoa yang mengungsi akibat Huru Hara Tionghoa 1740 M di Semarang. Karaton Panembahan Somala dibangun di sebelah timur karaton milik Gusti R. Ayu Rasmana Tirtonegoro dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod) yang tak lain adalah orang tua dia. Bangunan Kompleks Karaton sendiri terdiri dari banyak massa, tidak dibangun secara bersamaan namun di bangun dan diperluas secara bertahap oleh para keturunannya.     

Simbol Keraton Sumenep Tahun 1811-1965

      Keraton Sumenep sejatinya banyak jumlahnya, selain sebagai kediaman resmi adipati/raja yang berkuasa saat itu, karaton juga difungsikan sebagai tempat untuk mengatur segala urusan pemerintahan kerajaan. Saat ini Bangunan Karaton yang masih tersisa dan utuh adalah bangunan Karaton yang dibangun oleh Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod) beserta keturunannya yakni Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat dan Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raden Ario Notonegoro). Sedangkan untuk bangunan karaton-karaton milik Adipati/Raja yang lainnya, seperti Karaton Pangeran Siding Puri di Parsanga, Karaton Tumenggung Kanduruan, Karaton Pangeran Lor dan Pangeran Wetan di Karangduak hanya tinggal sisa puing bangunannya saja yakni hanya berupa pintu gerbang dan umpak pondasi bangunan Keraton.

     Istilah penyebutan Karaton apabila dikaitkan dengan sistem pemerintahan di Jawa saat itu, merasa kurang tepat karena karaton Sumenep memeliki strata tingkatan yang lebih kecil dari bangunan keraton yang ada di Jogjakarta dan Surakarta. Karaton Sumenep sebenarnya adalah bangunan kediaman keadipatian yang pola penataan bangunannya lebih sederhana daripada keraton-keraton besar seperti Jogjakarta dan Surakarta. Namun perlu dimaklumi bahwa penggunaan penyebutan istilah karaton sudah berlangsung sejak dulu kala oleh masyarakat Madura, karena kondisi geografis Sumenep yang berada di daerah mancanegara (wilayah pesisir wetan) yang jauh dari Kerajaan Mataram. Begitu juga penyebutan Penguasa Kadipaten yang lebih familiar dikalangan masyarakatnya dengan sebutan “Rato/Raja”.

Tentang Museum Keraton Sumenep

     Museum Keraton Sumenep memiliki luas keseluruhan sekitar 8,5 hm2. Museum pertama ini dulunya sebagai tempat garasi kereta kerajaan suemenep, Yang diresmikan oleh Drs. Abdurrahman bupati sumenep yang ke-9 pada tanggal 09 Maret 1965. Bangunan keraton sumenep berusia kurang lebih sekitar 254 tahunan sampai saat ini. Keraton Sumenep pernah dipimpin oleh seorang Raja. Ada 35 Raja yang memimpin Keraton Sumenep. Diantaranya, 14 mantan Bupati dan 15 mantan sekertaris daerah.

     Museum Keraton Sumenep merupakan situs budaya yang memamerkan atau mengenalkan situs peninggalan zaman dahulu yang ada di kota Sumenep. Museum Keraton Sumenep terletak di Jl. Dr. Sutomo No.6, desa Pajagalan, Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Pada museum ini tersimpan beragam peninggalan sejarah dari Keraton Sumenep dimana sebagian besar dari benda yang ada di dalamnya merupakan peninggalan bangsawan-bangsawan dari Kota Sumenep itu sendiri. Di dalam museum ini terdapat kurang lebih 480 koleksi yang dijadikan beberapa kelompok jenisnya. Museum Keraton Sumenep terbagi menjadi tiga bagian, dimana setiap bagiannya terdapat penyimpanan benda bersejarah yang dapat diakses langsung oleh masyarakat. Bagian museum yang pertama berada di kompleks sebelah kiri dari jalan raya, yang dimana bagian itu merupakan administrasi awal yang harus dipenuhi oleh pengunjung jika hendak melakukan kegiatan berkunjung di museum ini, pada bagian pertama terdapat benda bersejarah seperti kereta kencana, kursi dan meja peninggalan bangsawan zaman dahulu, Al-Qur’an dengan ukuran yang sangat besar, foto para raja-raja Sumenep, dan masih banyak lainnya. Kemudian pada bagian kedua yang tempatnya terdapat di dalam kompleks keratonan raja Sumenep, bagian kedua ini tersimpan beberapa benda-benda bersejarah yang biasa digunakan oleh raja maupun bangsawan kota Sumenep pada zaman dahulu. Pada bagian kedua ini dikenal dengan sebutan kantor Koneng yang berarti tempat melakukan aktivitas kepemimpinan kerajaan pada masa itu. Terakhir yaitu bagian museum yang ketiga, yang berada disamping kiri dari bangunan museum kedua. Pada bagian ini dikenal sebagai rumah dari Bindara Saod atau Raja Sumenep yang bergelar R. Tumenggung Tirtanegara. Pada bagian ini terdapat beberapa alat yang digunakan oleh raja untuk tidur, bertapa maupun menyepi. Untuk membaca lebih lengkap mengenai kompleks bangunan yang ada didalam Museum Keraton Sumenep, bisa dibaca pada halaman “Kompleks Museum Keraton Sumenep”.